PASKA SADAR

Dilihat : 9897 Kali, Updated: 20 12 2014 09:02:53
PASKA SADAR

Lalu apa hasil dari sadar itu?

Konon, seseorang itu sudah dapat  dikatakan menyadari kesalahannya  jika sudah sampai pada taraf tau, nyesal, dan  tidak seperti keledai yang suka jatuh di lubang yang sama. Namun apa hendak dikata kalau dalam kenyataannya, hanya lubang itulah satu-satunya jalan yang harus dia lewati. Alternatifnya hanya 2. Dia akan berhenti tepat dimulut lubang atau berani nekad melompatinya lagi.

Bagi yang hanya berhenti dimulut lubang, barang tentu dia tidak akan terperosok lagi, namun samasekali tidak ada kemungkinan untuk berhasil. Bagi yang berani nekad melompati lubang, meskipun kemungkinan terbesarnya adalah gagal, namun kalau nasib lagi mujur bisa berhasil juga.

Seperti itulah gambaran para petani di Purwojati kalau sedang menghadapi musim kemarau.

Disana samasekali tidak ada air.

Sebagian petaninya memilih menunggu lewatnya musim kemarau, sebagian lagi tetap berani nekad menanam padi atau palawija.

Mana yang lebih baik? Saya piker ini bukan masalah baik atau tidak baik; salah atau tidak salah, namun harus menjadi PR besar kita bersama agar penyakit keturunan ini bisa disembuhkan.

Oleh siapa? Oleh yang bukan bangsanya takhayul politik (baca tulisan saya terdahulu).

Tapi kenapa fihak Kecamatan koq diam saja? Gak! Mereka tidak diam saja dan sudah berusaha melampaui batas kemampuannya,  Hanya mohon dimengerti bahwa kecamatan itu bisa apa sih? Paling bisanya hanya seperti seorang nabi yang berteriak-teriak ditengah padang gurun. Kalau hari ini belum ada yang mendengar, mudah-mudahan esok atau lusa ada yang mendengar.

Meskipun bisanya hanya berteriak-teriak, namun mereka itu harus tetap diacungi jempol. KENAPA? Karena mereka sudah berani berbuat.

Dan yang lebih harus diacungi jempol lagi, bahwa disana ada seorang pemimpin  yang  merasa iba hatinya melihat jalan-jalan  mulai mulus. Sambil menangis dalam hati dia berkata “kenapa bukan air yang diberikan”

(bersambung)

 
 

Related Posts

Komentar