PURWOJATI, IBARAT SEBUAH SASTRA YANG KELIRU

Dilihat : 7031 Kali, Updated: 10 12 2014 11:01:08
PURWOJATI, IBARAT SEBUAH SASTRA YANG KELIRU

Seperti layaknya seorang PNS yang baru dimutasi ke tempat lain, maka sayapun harus mengikuti ritual wajib bagi seorang PNS yang baru dipindah yaitu memperkenalkan diri.

Disesi perkenalan itu saya hanya bicara tiga kalimat yaitu  pertama  saya tidak perlu menyebutkan nama, karena  sudah banyak yang mengenal   saya;  kedua bahwa sejak 30 tahun  lalu dengan sekarang keadaannya tidak banyak berubah, bahkan daun pintu jendela  itu (sambil menunjuk ke sebuah daun pintu jendela ) sejak 30 tahun  lalu sampai sekarang ya sama saja, hanya bedanya kalau  dulu belum dimakan rayap sekarang sepertinya sudah mulai ada yang dimakan rayap; kemudian yang terakhir  kalau saya boleh mengibaratkan Purwojati sebagai sebuah sastra, maka Purwojati adalah sebuah sastra yang keliru.

Ritual selesai saya langsung diajak diskusi dengan pimpinan saya sampai jam 3 sore, intinya bahwa mulai saat ini sastra itu harus dirubah. Kalau yang semula sastra itu berbunyi “Purwojati merupakan kecamatan yang luas wilayahnya paling kecil di Kabupaten Banyumas (diluar eks Kotip) tanahnya tandus dan tidak ada saluran irigasinya namun  sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani tadah hujan(maka petani selalu merugi) diganti dengan “Purwojati merupakan kecamatan yang walaupun luas wilayahnya paling kecil di Kabupaten Banyumas (diluar eks Kotip) namun karena tanahnya subur dan  ada saluran irigasi tehnisnya maka sudah layak dan sepantasnyalah kalau sebagian besar penduduknya  bermata pencaharian sebagai petani  irigasi tehnis (boleh berharap penan akan melimpah)atau “Purwojati merupakan kecamatan yang luas wilayahnya paling kecil di Kabupaten Banyumas (diluar eks Kotip) tanahnya tandus dan  tidak ada saluran irigasinya maka  sebagian besar penduduknya tidak bermata pencaharian sebagai petani tadah hujan” (bisa berdagang, industry dan syukur bisa di ekonomi kreatif)

Menyusun kalimat demi sastra yang benar itu memang tidak sesulit membuat agar kondisi yang senyatanya  seperti sastra yang benar (tidak sekedar bahasa yang indah, namun juga harus benar dan kontektual).

PR kedepan agar Purwajati berubah maka Purwojati harus mempunyai air atau kalau memang Purwojati harus terlahir tanpa air maka penduduknya jangan bertani. (ingat tahun ini kerugian petani mencapai 5M)

Itu PR siapapun kedepan kalau ingin melihat Purwojati berubah menjadi lebih baik.

(bersambung)

 
 

Related Posts

Komentar