SUDAH KERUH DARI HULU

Dilihat : 6039 Kali, Updated: 30 04 2015 08:27:00
SUDAH KERUH DARI HULU

Pada hari Rabu tanggal 29 April 2015 kemarin, bertempat di Graha Satria Kab Banyumas telah dilangsungkan rakor penyamaan persepsi atas SE Bupati Banyumas No: 541/1808 tanggal 24 April 2015 Perihal HET LPG Tabung 3 kg pada tingkat konsumen di Kabupaten Banyumas. Dalam pengantarnya, bapak Asekbangkesra sampai 3 (tiga) kali mengulang 2 (dua) kalimat yang sama yaitu 1. Masih ada tabung LPG 3 kg Banyumas beredar diluar Kabupaten Banyumas atau sebaliknya dan yang kedua adalah HET untuk tingkat konsumen di kabupaten Banyumas sebesar Rp. 18.000,- itu agar juga memperhitungkan jarak dan kesulitan medan. Maksudnya, kalau di dalam kota ya bisa dibawah itu.

Mendengar kedua kalimat itu diulang sampai 3 (tiga) kali oleh bapak asekbangkesra maka sayapun lalu berfikiran bahwa memang kedua kalimat itu setidaknya mendapatkan penekanan yang lebih daripada pesan-pesan yang lain.

Kemudian diakhir sesi (setelah acara ditutup) kami menyampaikan adanya praktek-praktek yang tidak baik dilapangan kepada fihak Hiswana Migas namun malah ditanggapi kurang enak.

Kasusnya demikian:

Kebutuhan LPG di Desa Kaliputih adalah 200 buah namun baru dipenuhi 120 buah sehingga kurang 80 buah. Oleh fihak pangkalan yang ada telah meminta tambahan sebanyak 80 buah lagi dan oleh agen telah disanggupi. Hanya saja yang jadi persoalan adalah harga perdananya yang tinggi banget. Mosok hanya untuk isi ulang LPG 3 kg yang harganya rp. 14.000,- (waktu itu) dari fihak agen minta harga perdana isi ulang sampai rp. 90.000,-. Ini kan namanya mncekik leher. Mosok hanya bisnis LPG 3 kg saja untuk balik modal butuh waktu 76 minggu, kan lama banget (konon 3 kg LPG bisa mencukupi kebutuhan konsumen rumahan untuk 1 minggu. Jadi kalau setiap 1 tabung LPG 3 kg pangkalan hanya untung rp. 1.000,- berarti untuk BEP kan butuh waktu 76 minggu.

Lalu dampaknya bagaimana?

Karena di desa Kaliputih masih ada kekurangan pasokan LPG 3 kg sebanyak 80 buah, maka ada orang cerdas yang lalu memanfaatkan dengan membeli LPG 3 kg dari Bumiayu yang diedarkan di desa Kaliputih.

Lalu ijinnya bagaimana? Soder ijin!

Mendengar kasus yang demikian itu koq dari Hiswana Migas naik pitam. Gimana sih? Harusnya kan dicatat trus ditelusuri benar tidaknya.

Untung peristiwa itu tidak berlarut-larut karena bapak asekbangkesra melihat gelahat yang kurang baik, kemudian segera meminta Hiswana Migas turun ke lapangan.

Inilah yang saya maksud dengan  “sudah keruh dari hulunya”

Related Posts

Komentar